Pernahkah Bapak/Ibu Guru selama mengajar mendapatkan satu kelas yang muridnya memiliki karakteristik yang sama persis satu sama lain? Saya meyakini jawabannya pasti belum pernah.

Setiap kelas selalu terdiri dari murid yang memiliki karakteristik berbeda. Minat mereka berbeda, bakat mereka berbeda, sifat kebiasaan mereka berbeda. Ada murid yang aktif, selalu ingin tampil, kemampuan akademiknya biasa saja. Ada pula murid yang pendiam dan pemalu, tapi setiap tes selalu bisa dan hasilnya paling bagus. Ada murid yang tidak bisa diam, selalu mengganggu temannya, dan tentu saja masih banyak sifat berbeda lainnya dari murid.

Demikianlah, sebagai guru keseharian kita dihadapkan pada keberagaman murid.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang biasanya Guru lakukan dalam menghadapi keberagaman murid tersebut?

Dalam pembelajaran, apakah guru menuntut semua murid harus sama seragam mengikuti gaya dan keinginan guru?

Ketika guru menuntut semua murid aktif dalam pembelajaran diskusi, apa yang terjadi pada Si Pemalu?

Ketika kita memberikan tes, apakah sudah dipastikan murid yang memiliki kelambatan menerima informasi sudah menerima pelayanan pembelajaran yang adil?

Ki Hadjar Dewantara menganalogikan pendidik/guru dengan pengukir kayu,

Seorang pengukir kayu barang tentu wajib mempunyai pengetahuan yang dalam dan luas tentang hakekatnya atau keadaannya kayu; jadi harus tahu akan ilmu kaju. Ia wajib mengetahui mana kayu-kayu yang keras dan yang tidak keras, yang boleh dipergunakan untuk ukiran-ukiran yang halus atau yang kasar, begitu seterusnya. Karena pendidik itu mengukir manusia, sedang manusia mempunyai hidup lahir dan batin, maka ilmu-kemanusiaan itu dua macamnya, ialah “psychologie” dan “fysiologie”.

Untuk memahat kayu, selain pekakasnya harus tepat, Sang Pengukir juga harus memahami sifat-sifat kayu yang akan diukirnya. Apalagi dalam mendidik seorang manusia, seorang pendidik tidak boleh melewatkan ilmu jiwa, harus memahami karakteristik tiap murid.

Sebagai guru sudah menjadi kewajiban untuk memastikan setiap murid mendapatkan kebutuhan belajarnya. Diperlukan sebuah pendekatan pembelajaran yang memastikan setiap murid mendapatkan cara belajar terbaiknya. Sebuah pembelajaran yang berdiferensiasi, tidak hanya memaksimalkan potensi murid, tapi sebuah pembelajaran tentang nilai-nilai kehidupan. Bahwasannya perbedaan adalah sebuah kodrat, seyogyanya dengan saling menghargai maka akan muncul kekuatan diri, dan kemerdekaan dalam belajar.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. (Tomlinson : 2000).

Pembelajaran berdiferensiasi bukan hanya sekedar pendekatan pembelajaran, tapi serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut terkait dengan:

  1. Tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas.
  2. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar murid
  3. Bagaimana guru menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar
  4. Manajemen kelas yang efektif.
  5. Penilaian yang berkelanjutan.

Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek, yaitu :

  1. Kesiapan belajar (readiness) murid
  2. Minat murid
  3. Profil belajar murid

Dalam praktik pembelajaran di kelas, ketika guru memulai menyampaikan materi pembelajaran sering mendapati murid sulit menerima informasi yang guru sampaikan. Hal ini bisa jadi karena apa yang guru sampaikan tidak sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Ketika murid bermalas-malasan mengerjakan tugas yang guru berikan, mungkin karena tugas-tugas yang guru berikan tidak memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), atau bisa jadi cara pengerjaan tugasnya tidak sesuai dengan cara yang mereka sukai (profil belajar).

Pada praktiknya, memberikan informasi baru pada kelas yang beragam muridnya dibutuhkan strategi, supaya dalam mendapatkan konten, menalar gagasan, dan mengembangkan produk pembelajaran bisa berlangsung efektif.

Menurut Tomlinson (2001) strategi pembelajaran berdiferensiasi dibagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Diferensiasi konten
  2. Diferensiasi proses
  3. Diferensiasi produk

Untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, sebelum pembelajaran hendaknya guru mengenali karakter murid yang nantinya akan belajar. Secara naluri guru akan dengan mudah mengidentifikasi sifat, kebiasaan, minat murid. Guru dengan mudah akan mengenali Si A yang cerewet, Si B yang sering tidak mengerjakan tugas, dan seterusnya. Yang mesti guru lakukan adalah lebih mendalam lagi melakukannya.

Hal yang perlu digaris bawahi adalah bahwasannya dalam mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar murid, tidak selalu harus melibatkan sebuah kegiatan yang rumit. Selain memperhatikan hasil penilaian formatif, Guru dapat mengidentifikasi atau memetakan murid secara alamiah dengan sedikit meluangkan waktu untuk lebih memperhatikan dengan seksama aktifitas murid, melakukan relasi yang berempati dalam bercakap dan mendengarkan murid. Sehingga pada akhirnya dapat mengetahui kebutuhan belajar murid-muridnya.

Bukankah tugas guru adalah menuntun? Seperti diungkapkan Ki Hajar Dewantara,

“Maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi[1]tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat”

Ki Hadjar Dewantara juga mengemukakan bahwa dalam proses menuntun, anak perlu diberikan kebebasan dalam belajar serta berpikir, dituntun oleh para pendidik agar anak tidak kehilangan arah serta membahayakan dirinya. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang memunculkan sebuah pedoman, sebuah penunjuk arah yang konsisten, dalam pendidikan di Indonesia. Pedoman tersebut adalah Profil Pelajar Pancasila (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020).

Untuk mewujudkan itu semua, hendaknya guru memiliki visi. Untuk dapat mewujudkan visi dan melakukan proses perubahan, maka perlu sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan sehingga menciptakan dan menumbuhkan ekosistem yang baik serta budaya positif untuk mewujudkan pembelajaran yang berfokus pada kebutuhan murid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *