Salam dan Bahagia!

Salah satu tugas guru adalah membantu murid belajar dengan aman dan nyaman. Sebagai pendidik, kita harus menjadi pemimpin pembelajaran menerapkan budaya positif di kelas kita. Budaya positif sangat penting diwujudkan di sekolah untuk membangun ekosistem yang baik. Hal ini sesuai dengan filosofis pendidikan Ki Hajar Dewantara, melalui analogi petani.

“…kita ambil contoh perbandingannya dengan hidup tumbuh-tumbuhan, seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik) yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya.” (Ki Hadjar Dewantara, Lampiran 1. Dasar-Dasar Pendidikan. Keluarga, Th. I No.1,2,3,4., Nov, Des 1936., Jan, Febr. 1937.

Untuk menggerakan dan memulai kolaborasi saya memulai dari diri dengan menerapkan terlebih dahulu. Saya memulai dengan melakukan kesepakatan dengan murid tentang nilai-nilai kebajikan atau keyakinan. Membangun Kelas Impian “Kelasku Surgaku”. Menjaring keinginan-keinginan tiap murid tentang kelas impiannya. Kelas yang membuatnya aman dan nyaman. Impian kelas yang aman dan nyaman tersebut kami tuangkan dalam keyakinan kelas, sebuah komitmen dan pengingat dalam bersikap dan bertindak.

Membuat Kesepakatan tentang Nilai-nilai Kebajikan yang menjadi Keyakinan

Ketika ada murid yang memiliki masalah dan melanggar kesepakatan, kami selalu melaksanakan restitusi, yaitu sebuah model disiplin positif yang berpihak atau berpusat pada murid.

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996). Sehingga dalam penerapannya restitusi lebih dominan mengambil posisi kontrol sebagai manajer.

Model restitusi memiliki ciri-ciri diantaranya yaitu :
1. Bukan untuk menebus kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan.
2. Memperbaiki hubungan.
3. Tawaran, bukan paksaan.
4. Restitusi menuntun untuk melihat ke dalam diri.
5. Restitusi mencari kebutuhan dasar yang mendasari tindakan.
6. Restitusi diri adalah cara yang paling baik.
7. Restitusi fokus pada karakter bukan tindakan.
8. Restitusi fokus pada solusi.
9. Restitusi mengembalikan murid yang berbuat salah pada kelompoknya.

Diane Gossen dalam bukunya Restitution; Restructuring School Discipline, 2001 telah merancang sebuah tahapan untuk memudahkan para guru dan orangtua dalam melakukan proses untuk menyiapkan anaknya untuk melakukan restitusi. Proses ini meliputi tiga tahap dan setiap tahapnya berdasarkan pada prinsip penting dari Teori Kontrol, yaitu Menstabilkan Identitas/Stabilize the Identity, Validasi Tindakan yang Salah/Validate the Misbehaviour, dan Menanyakan Keyakinan/Seek the Belief. Ketiga strategi tersebut direpresentasikan dalam 3 sisi segitiga restitusi, sehingga diberi nama segitiga restitusi/restitution triangle.

Penerapan Restitusi

Kita memiliki keyakinan bahwa penerapan budaya positif di sekolah dengan penerapan disiplin efektif yang berpusat pada murid akan mewujudkan pendidikan karakter, sehingga cita-cita menciptakan Profil Pelajar Pancasila tercapai. Dampak ketika kita menerapkan budaya positif adalah kemerdekaan dan kemandirian murid dalam membangun budaya positif itu sendiri. Tolak ukur murid merdeka dan mandiri dalam membangun budaya positif yaitu munculnya motivasi intrinsik untuk menjalankan nilai-nilai kebajikan atau keyakinan yang sebelumnya telah dibangun dan disepakati bersama.
Dalam penerapan disiplin positif yang efektif, kita harus merubah paradigma yang kita yakini selama ini. Sebelum ini kita beranggapan guru harus mengontrol murid, bahwa mengkritik murid dan membuatnya merasa bersalah akan menguatkan karakter mereka. Kita juga harus membuang jauh-jauh kehendak untuk memaksa murid melakukan apa yang kita inginkan, menghapus anggapan bahwa orang dewasa bisa melakukan pemaksaan. Itu adalah paradigma lama kita yang harus dibuang.

Kita harus membangun paradigma baru, bahwasannya murid tidak harus berpandangan sama dengan guru, murid berhak memiliki pandangan lain tentang dunia. Kita harus melihat prilaku buruk dari seorang murid bukanlah sebuah kegagalan, bahwa setiap prilaku memiliki tujuan. Kita harus memahami bahwa guru tidak bisa mengotrol murid, yang berhak mengotrol seorang manusia adalah dirinya sendiri.

Dalam menerapkan disiplin kita tidak boleh memaksa tapi harus melakukan kolaborasi dan konsesus dengan murid untuk menciptakan pilihan-pilihan baru, sehingga terbangun model berfikir win-win, semua menang.

Selama ini defenisi disiplin sudah banyak menyimpang dari arti dan tujuan sebenarnya. Makna kata disiplin telah berubah menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan sehingga muncul ketidaknyamanan.

Padahal arti disiplin yang sebenarnya adalah belajar, asal kata dari bahasa Latin, ‘disciplina’. Maknanya berkonotasi dengan disiplin diri, menggali potensi menuju sebuah tujuan.

Tujuan penerpan disiplin muaranya adalah mendukung motivasi intrinsik. Selama ini penerapan disiplin dilakukan melalui pendekatan serangkaian peraturan, sehingga motivasi murid masih dipengaruhi motivasi ekstrinsik, murid disiplin karena takut melanggar dan dihukum. Diperlukan perubahan pendekatan untuk lebih menggerakan, kita harus membawa murid kembali ke nilai-nilai kebajikan atau keyakinan.

Membangun ekosistem positif atau budaya positif, diperlukan kesepahaman semua warga sekolah, diperlukan sebuah kolaborasi yang menggerakan dari seluruh warga sekolah. Untuk mewujudkan hal tersebut melalui komunitas praktisi kami saling berbagi dan berdiskusi tentang pemahaman budaya positif.

Diskusi Komunitas Praktisi

Mewujudkan budaya positif adalah mewujudkan merdeka belajar,
“…merdeka itu artinya; tidak hanya terlepas dari perintah; akan tetapi juga cakap buat memerintah diri sendiri.” (Ki Hajar Dewantara).

1 Komentar pada “BUDAYA POSITIF MEMBANTU MURID BELAJAR DENGAN AMAN, NYAMAN DAN BAHAGIA”

  • Mendisiplinkan siswa dengan paksaan, hukuman, dan menyakiti fisik maupun mental dapat merusak masa depan siswa.

    Oleh karena itu, disiplin positif ini harus diterapkan bagaimanapun caranya. Secara bertahap dan berkesinambungan, disertai saling berbagi penerapan masing-masing guru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *